Harga telur ayam kembali menjadi perbincangan. Dalam beberapa bulan terakhir, banyak masyarakat merasakan harga telur cenderung naik dan sulit kembali ke harga sebelumnya. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan pedagang pasar, tetapi juga ibu rumah tangga hingga pelaku usaha makanan.
Salah satu faktor yang sering disebut dalam berbagai diskusi adalah meningkatnya kebutuhan konsumsi telur sejak adanya program MBG (Makan Bergizi Gratis). Telur menjadi salah satu sumber protein utama dalam program tersebut karena harganya relatif terjangkau dibanding daging, mudah didistribusikan, dan bergizi tinggi. Namun, di sisi lain, peningkatan permintaan ini memberi tekanan pada pasokan.
Pak Rahmat, seorang pedagang telur di pasar tradisional Tangerang, mengaku harga belakangan ini lebih sering naik dibanding turun.
“Biasanya kalau naik, seminggu dua minggu sudah turun lagi. Sekarang turunnya sebentar, habis itu naik lagi. Permintaan memang lebih banyak,” ujarnya.
Menurutnya, sejak kebutuhan telur meningkat untuk berbagai program dan pesanan dalam jumlah besar, stok dari distributor lebih cepat habis. Ketika pasokan menipis sementara permintaan tetap tinggi, harga otomatis terdorong naik.
Ibu Sari, seorang ibu rumah tangga, merasakan dampaknya langsung di dapur.
“Telur itu lauk andalan. Murah, gampang dimasak. Tapi sekarang kalau harga naik terus, belanja jadi harus lebih dihitung,” katanya.
Ia mengaku tetap membeli telur karena praktis dan disukai anak-anak, namun jumlahnya kadang dikurangi agar anggaran tetap aman. Bagi banyak keluarga, telur adalah penyelamat ketika harga daging atau ayam naik. Ironisnya, saat telur ikut naik, pilihan semakin terbatas.
“Telur dadar, telur balado, campuran nasi goreng, semuanya pakai telur. Kalau harga naik, kita tidak bisa langsung naikkan harga jual. Takut pelanggan kabur,” jelasnya.
Akibatnya, margin keuntungan makin tipis. Beberapa pelaku usaha memilih mengurangi ukuran porsi atau mencari supplier dengan harga lebih stabil agar tetap bisa bertahan.
Secara ekonomi, harga terbentuk dari keseimbangan antara permintaan dan pasokan. Program MBG yang membutuhkan pasokan protein dalam jumlah besar otomatis meningkatkan permintaan telur secara nasional. Jika produksi tidak bertambah secara signifikan, maka tekanan harga sulit dihindari.
Selain itu, faktor lain juga ikut memengaruhi, seperti:
• Harga pakan ternak yang fluktuatif, biaya distribusi dan logistik, cuaca dan produktivitas ayam petelur, serta peran tengkulak dalam rantai distribusi.
Ketika beberapa faktor tersebut terjadi bersamaan, harga menjadi lebih sensitif dan mudah naik.
Beberapa pelaku pasar juga menyinggung peran tengkulak atau bandar. Dalam kondisi permintaan tinggi, penguasaan stok di tingkat distribusi dapat memengaruhi harga di lapangan.
“Kalau stok ditahan atau dilepas sedikit-sedikit, harga bisa ikut naik,” ungkap salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Meski tidak semua distributor melakukan hal tersebut, dinamika di lapangan sering kali membuat harga di tingkat konsumen berbeda cukup jauh dari harga di tingkat peternak.
Banyak pihak berharap ada keseimbangan antara program pemenuhan gizi dan stabilitas harga pasar. Peternak perlu didukung agar produksi meningkat, sementara distribusi harus lebih transparan agar tidak terjadi lonjakan harga yang memberatkan masyarakat.
Telur adalah sumber protein rakyat. Ketika harganya stabil, semua pihak diuntungkan: peternak mendapat keuntungan wajar, pedagang bisa berjualan tenang, pelaku usaha kuliner tidak tertekan, dan ibu rumah tangga tetap bisa menyajikan makanan bergizi.
Kenaikan harga telur bukan sekadar angka di papan pasar. Di baliknya ada cerita tentang dapur rumah tangga, usaha kecil yang berjuang, dan sistem distribusi yang perlu terus dibenahi.
Lihat Juga:
Kapan Seritifikasi Halal Berbayar Diperlukan?




