Lupakan
sejenak pertikaian abadi antara sekte bubur ayam diaduk versus tidak diaduk,
karena ada "perang saudara" kuliner lain yang diam-diam lebih
berdarah-darah: Bagaimana cara yang benar menodai sepotong pempek dengan kuah
cukonya?
Bagi
sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele. Tapi coba
sesekali Anda perhatikan orang-orang yang menikmati pempek. Anda akan melihat
polarisasi karakter manusia yang kini terpecah menjadi lima sekte garis keras: Sekte
Disiram, Sekte Dicelup, Sekte Anti-Luntur, Sekte Pantang
Rugi, dan Sekte Dihirup.
Dimas (27), pekerja kantoran milenial yang praktis dan tak mau rugi rasa. Bagi Dimas, makan pempek tanpa menenggelamkan seluruh isi piring adalah sebuah kesia-siaan. "Logikanya gini, Bro. Pempek itu kan digoreng garing. Kalau cukonya disiram sampai banjir, kuahnya itu bakal meresap ke pori-pori si kapal selam. Pas digigit, crot! pecah di mulut. Lagian, ribet amat makan harus celup-celup," bela Dimas dengan penuh keyakinan.
Berbeda dengan Dimas, ada Sisca (22), Gen Z yang sangat
peduli pada tekstur dan estetika visual piring makanannya. "Disiram? Oh
my God, no! Itu bikin pempeknya jadi soggy alias lembek. Piringnya juga jadi
kotor blepotan warna hitam, difoto buat Story IG jelek banget. Cara paling
beradab itu dipotong, ditusuk garpu, terus dicelup secukupnya. Tekstur
garingnya dapet, rasa cukonya pas, dan elegan," sanggah Sisca sambil
menyingkirkan remah ebi dari bibirnya.
Bergeser ke meja seberang, ada Mama Khansa (38), kordinator
arisan dan menteri urusan jemput anak sekolah. Bagi klan ini, cara makan pempek
harus selaras dengan ketahanan makeup dan kelancaran sirkulasi gosip. "Ya
dicelup cantik dong, Bun! Kalau diseruput langsung dari mangkok, luntur dong
lipstik Bunda! Terus kalau disiram banjir, ribet motongnya, bahaya
kuahnya nyiprat ke gamis arisan atau seragam sekolah anak. Cucinya susah tau!
Mending dipotong kecil, celup dikit, hap! Mulut tetep bersih dan bisa langsung
nyambung ngomongin Drakor semalam," celoteh Mama Dita sambil
mengipas-ngipas kegerahan.
Kiki (24), penganut gaya hidup hemat yang radikal. Baginya, perdebatan disiram atau dicelup itu tidak relevan. Yang penting adalah Return on Investment. "Cara makan paling bener? Kalau dine-in, minta cukonya dipisah di mangkok. Pas makan, celup dikit aja. Sisanya? Gue masukin ke botol minum kosong yang sengaja gue bawa dari rumah. Kalau pesen online, request cuko dipisah plastikan yang banyak. Lumayan, Bro, buat stok cocolan gorengan atau kuah cireng di kosan seminggu ke depan. Cuko pempek itu liquid gold, pantang dibuang bersisa di piring!" bongkar Kiki bangga dengan trik ekonomisnya.
Mendengar pengakuan Kiki, Bang Yos (45) si produsen pempek senyum sinis. Sambil menggoreng lenjer. "Saya mah bodo amat mau disiram kek, dicelup kek, atau buat cuci muka sekalian. Tapi jujur aja, saya paling gedek sama yang minta tambahin kuahnya atau yang nyiram cuko sampai banjir tapi ujung-ujungnya sisa seember di piring. Bikin cuko pakai gula batok asli sama cabe itu mahal modalnya, bos!" gerutunya kesal.
Mang Cek (65), warga asli
Palembang punya pandangan berbeda seolah melihat sekumpulan orang yang tersesat dari jalan yang lurus. "Kalian
ini penistaan namonyo! Makan pempek tuh cukonyo dihirup (diseruput) dari
mangkok kecik! Gigit dulu pempeknyo, baru hirup cukonyo. Cuko mak itu rasonyo,
dak katek lawan! (Cuko itu seperti itu rasanya, tidak ada tandingannya!),"
ucap Mang Cek dengan logat Sumatera Selatan yang kental sambil mempraktikkan gaya minum espresso, tapi isinya kuah pedas
hitam.
Ternyata Ada Filosofi dan Sejarahnya.
Jika kamu mengira Mang Cek hanya bapak-bapak cerewet, Anda salah besar. Dalam budaya
asli Palembang, meminum atau menghirup cuko secara langsung dari mangkuk kecil (cuko
dihirup) adalah kebenaran mutlak dan etika tertinggi dalam menikmati
pempek.
Ini
bukan sekadar kebiasaan nyeleneh, tapi ada filosofi gastronomi dan sejarah
panjang di baliknya:
- Cuko Adalah Bintang Utama,
Pempek Hanya "Figuran":
Di Palembang, ada pepatah "Dak katek cuko, dak makan"
(Tidak ada cuko, tidak makan). Orang Palembang bisa saja makan kerupuk
atau mie kuning hanya dengan cuko. Kualitas sebuah kedai pempek tidak
dinilai dari ikan tenggirinya, melainkan dari sedapnya cuko. Dengan
meminumnya langsung, Anda memberikan penghormatan pada sang "bintang
utama", mencecap keseimbangan sempurna antara pedas, asam, dan manis
gula batok tanpa terdistraksi rasa adonan ikan.
- Menghindari "Polusi
Rasa" (Etika Kebersihan):
Zaman dulu, pempek sering disajikan berumpuk di piring besar untuk dimakan
bersama keluarga. Jika cukonya disiram ke piring tengah, atau semua orang
mencelupkan sisa gigitan mereka ke dalam mangkuk cuko yang sama, itu
dianggap jorok dan merusak rasa murni cuko. Maka, etika yang benar adalah
menuangkan cuko ke cawan kecil masing-masing, lalu meminumnya sehabis
menggigit pempek.
- Mendukung Ekonomi Pedagang
(Zero Waste): Gula batok Linggau yang hitam
pekat itu harganya lumayan. Membuang sisa cuko di piring seperti yang
dikeluhkan Bang Yos adalah sebuah dosa ekonomi. Dengan metode dihirup,
cuko akan masuk ke perut tanpa sisa setetes pun di piring. Sebuah konsep zero
waste yang sudah diterapkan "Wong Kito" jauh sebelum istilah
itu ngetren!
Jadi,
setelah mengetahui sejarah dan filosofinya, apakah Anda siap bertaubat dan
pindah ke sekte "Cuko Dihirup"? Ataukah Anda tetap keras kepala
menjadi "Jamaah Disiram" dan "Pencuri Cuko Pakai Botol
Minum"? Apapun pilihan Anda, pastikan saja jangan sampai tersedak cuko
saat berdebat. Panasnya sampai ke ubun-ubun!
Lihat Juga:
Tahun 2026, Jualan Tanpa Sertifikat Halal?



